Saat Wisatawan China ke Indonesia: Tren, Karakteristik, dan Strategi Bisnis

wisatawan china ke indonesia
Table of Contents

Key Takeaways:

  1. Karakteristik wisatawan China di Indonesia kini semakin experience-driven dan digital-savvy, dengan minat kuat pada liburan keluarga, wisata kota, pulau, kuliner, dan budaya.

  2. Peralihan ke perjalanan mandiri (FIT) membuat kesiapan digital menjadi krusial, mulai dari digital presence berbahasa Mandarin, sistem reservasi online real-time, hingga layanan yang mudah diakses secara mandiri.

  3. Pembayaran digital lintas negara menjadi kunci peluang bisnis, karena wisatawan China terbiasa menggunakan Alipay dan WeChat Pay, yang mendorong transaksi lebih cepat, belanja spontan, dan peningkatan nilai transaksi merchant.

Indonesia tengah menikmati pemulihan pariwisata yang semakin kuat, dengan wisatawan internasional kembali menjadi motor pertumbuhan, terutama dari China sebagai salah satu pasar strategis pasca pandemi. Bagi pelaku bisnis, momentum ini bukan hanya soal peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga tentang memahami perubahan perilaku, preferensi konsumen, serta kebiasaan transaksi wisatawan China agar peluang pendapatan, kualitas layanan, dan strategi pemasaran dapat dioptimalkan secara lebih tepat sasaran.

Inilah Tren & Karakteristik Wisatawan China

Sepanjang Januari–September 2025, kunjungan wisatawan China ke Indonesia mencapai 1,02 juta orang, tumbuh 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menegaskan bahwa pasar China kembali menjadi salah satu pendorong pariwisata Indonesia pascapandemi.

Pada survey ITB China Travel Trends Report 2025/26, sebanyak 37% wisatawan China memilih kawasan Asia Tenggara sebagai tujuan utama, mencakup Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, serta negara lain di kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa Asia Tenggara tetap menjadi kawasan prioritas dalam peta perjalanan outbound China.

Di sisi destinasi, ketertarikan wisatawan China di Indonesia semakin mengarah pada wisata alam dan lanskap ikonik. Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Ni Made Ayu Marthini, yang dikutip dari Republika.com, menyebutkan bahwa destinasi favorit wisatawan China meliputi pemandangan laut di Manado, Sulawesi Utara, serta kawasan pegunungan Bromo–Tengger–Semeru (BTS). Tren ini menegaskan kuatnya daya tarik Indonesia pada segmen wisata alam dan pengalaman berbasis lanskap.

Preferensi Liburan Wisatawan China Saat ke Luar Negeri

Minat wisatawan China bergeser dari sightseeing trips to experience journeys.

  • 61% – Liburan keluarga
    Menunjukkan wisatawan China banyak bepergian bersama keluarga lintas generasi. Destinasi yang kid-friendly, hotel family-friendly, serta aktivitas keluarga menjadi segmen dengan peluang pertumbuhan tinggi.

  • 60% – City sightseeing & city walks
    Wisata kota tetap menjadi pilihan utama. Kota dengan kekuatan budaya, belanja, kuliner, dan landmark memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan China.

  • 38% – Liburan di pulau
    Mengindikasikan ketertarikan besar pada destinasi pantai dan resort. Indonesia berpeluang di segmen ini melalui beberapa tempat wisata favorit seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo, serta berbagai destinasi kepulauan lainnya.

  • 33% – Wisata kuliner dan wisata budaya
    Wisatawan China juga aktif mencari pengalaman makan lokal dan eksplorasi budaya. Peluang besar terbuka bagi restoran lokal, food tour, serta atraksi budaya sebagai titik belanja dan transaksi utama.

Temuan ini juga tercermin di lapangan. Kemenparekraf mencatat bahwa pada periode liburan seperti Tahun Baru dan Tahun Baru Imlek, wisatawan China kerap memilih kamar junior suite di hotel kota untuk diabadikan dan dibagikan di media sosial, menampilkan kemewahan akomodasi yang mereka kunjungi. 

Selain itu, banyak wisatawan memilih resort keluarga sebagai tempat berkumpul dan menikmati waktu bersama, sekaligus mulai tertarik pada aktivitas seperti menyelam (diving) dan bermain golf sebagai bagian dari pengalaman liburan.

💡Peluang bagi pelaku bisnis:
Produk atau layanan berbasis experience dapat menjadi peluang bisnis pariwisata. Restoran, atraksi wisata, hingga operator tur lokal memiliki peluang besar untuk menarik wisatawan China melalui pengalaman yang unik, autentik, dan mudah dibagikan, sekaligus mendorong interaksi dan transaksi yang lebih bernilai.

Pola Peralihan dari Group Tour ke Perjalanan Mandiri 

Baik data dari ITB China Travel Trends Report 2025/26 maupun Kemenparekraf mencatat pergeseran dari tur grup ke perjalanan mandiri (Free Independent Travel / FIT). Menurut Kemenkraf, sebelum pandemi Covid-19, wisatawan China cenderung berwisata dalam grup dan berkeliling menggunakan bus wisata. Satu grup berisikan lima sampai enam orang untuk satu kali perjalanan.

Berbeda dengan masa kini yang mana wisatawan lebih berani untuk pergi berdua atau berwisata seorang diri. Hal ini terjadi karena adanya kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang mempermudah wisatawan untuk berkomunikasi menggunakan berbagai platform penerjemah selama perjalanan.

Kebutuhan Wisatawan China dengan Perjalanan Mandiri (FIT)

Dari tren ini, maka kebutuhan wisatawan China pun ikut berubah dan semakin menuntut kesiapan ekosistem digital di destinasi, antara lain:

  • Digital presence dalam bahasa Mandarin

Informasi destinasi hingga layanan di kanal digital seperti website dalam bahasa Mandarin menjadi krusial agar wisatawan dapat merencanakan perjalanan, memahami layanan, dan bertransaksi dengan lebih percaya diri.

  • Sistem reservasi online yang andal

Wisatawan China kini terbiasa memesan hotel, atraksi, transportasi, hingga restoran secara mandiri. Ketersediaan sistem reservasi online yang cepat, transparan, dan real-time menjadi faktor penentu dalam memilih hotel maupun destinasi.

  • Metode pembayaran digital yang familiar

Dukungan terhadap metode pembayaran populer di China memudahkan transaksi sekaligus meningkatkan peluang belanja spontan di berbagai titik layanan.

Pembayaran Digital China: Peluang Baru Bisnis Anda

Dominasi pembayaran digital di kalangan wisatawan China semakin menguat. Data Statista, menunjukkan bahwa Alipay dan WeChat Pay digunakan oleh sekitar 9 dari 10 pengguna pembayaran online di China dalam 12 bulan terakhir, menjadikan kedua platform pembayaran ini paling populer di pasar domestik. 

Hal tersebut menunjukkan tingkat adopsi yang sangat tinggi ini juga membentuk kebiasaan transaksi wisatawan China saat bepergian ke luar negeri, dimana mereka mengharapkan proses pembayaran yang cashless, cepat, dan familiar seperti di negara asal. 

Dalam konteks pariwisata, preferensi ini mendorong wisatawan China untuk lebih aktif berbelanja, memesan atraksi, hingga melakukan transaksi spontan di merchant yang telah mendukung metode pembayaran digital China. Bagi pelaku bisnis di Indonesia, kesiapan menerima Alipay, WeChat Pay, serta sistem pembayaran lintas negara menjadi faktor krusial untuk menangkap potensi belanja wisatawan China yang semakin digital-first.

Adakah Peluang bagi Bisnis?

Ya, tentu ada. Perilaku transaksi wisatawan China yang semakin digital tidak hanya mencerminkan perubahan kebiasaan, tetapi juga menyimpan peluang besar bagi pelaku bisnis di Indonesia untuk meningkatkan daya saing sekaligus menangkap potensi belanja wisatawan China secara lebih optimal, berikut peluang bisnis yang dapat Anda manfaatkan:

  • Peningkatan Penjualan

Adopsi metode pembayaran yang familiar bagi wisatawan China mempercepat proses transaksi, mengurangi hambatan saat check-out, dan mendorong nilai belanja lebih tinggi dari wisatawan yang dikenal aktif bertransaksi.

  • Memperluas Market & Pengalaman Pelanggan yang Lebih Baik

Pembayaran China-ready memperluas jangkauan ke wisatawan China dengan menghadirkan pengalaman transaksi yang familiar, nyaman, dan mendorong peningkatan belanja.

Transaksi yang cepat, aman, dan familiar meningkatkan kepuasan wisatawan, memperbesar peluang ulasan positif, kunjungan ulang, serta rekomendasi ke sesama wisatawan China.

Tips Bisnis Pariwisata dalam Menyambut Wisatawan China

Seiring pergeseran tren wisatawan China dari group tour ke perjalanan mandiri (Free Independent Travel / FIT), kebutuhannya juga semakin menuntut kesiapan ekosistem digital di destinasi. Agar dapat menangkap peluang ini secara optimal, Anda perlu menyesuaikan layanan melalui beberapa langkah strategis berikut:

  1. Perkuat Digital Presence & Pengalaman Multibahasa

Sediakan informasi destinasi, hotel, restoran, dan aktivitas wisata di website maupun kanal digital dengan pilihan bahasa Mandarin, dilengkapi menu, panduan layanan, serta instruksi pembayaran dalam bahasa yang sama. Langkah ini membantu wisatawan China merencanakan perjalanan dengan lebih mudah, memahami layanan dengan jelas, serta meningkatkan kenyamanan, kepuasan, dan potensi rekomendasi selama berada di Indonesia.

  1. Bangun Kolaborasi Strategis dengan Partner Lokal

Bekerja sama dengan agen perjalanan atau tour operator, untuk memperluas visibilitas brand di market China serta menjangkau wisatawan sejak tahap perencanaan perjalanan.

  1. Sediakan Sistem Reservasi Online yang Andal

Wisatawan China kini terbiasa memesan hotel, atraksi, transportasi, hingga restoran secara mandiri. Sistem reservasi yang cepat, transparan, dan real-time menjadi faktor penentu dalam memilih destinasi maupun penyedia layanan.

  1. Perluas Opsi Pembayaran Digital yang Familiar

Dukungan terhadap metode pembayaran populer di China menjadi kunci untuk mempermudah transaksi dan meningkatkan peluang belanja ‘spontan’ di berbagai titik layanan. Begitupun kehadiran signage pembayaran dalam bahasa Mandarin atau QR code payment yang juga membantu membangun rasa aman dan kepercayaan wisatawan saat bertransaksi di tempat.

Pembayaran Digital sebagai Kunci Daya Saing Pariwisata

Wisatawan China kembali menjadi salah satu pasar kunjungan strategis bagi pariwisata Indonesia, seiring meningkatnya jumlah kunjungan dan fokus pemerintah dalam menarik wisatawan dari market ini. Pola konsumsi mereka yang aktif berbelanja serta kebiasaan bertransaksi secara digital menunjukkan bahwa kesiapan menerima pembayaran lintas negara kini menjadi bagian penting dari layanan pariwisata modern.

Pelaku bisnis yang mampu beradaptasi dengan menghadirkan layanan digital, sistem reservasi yang andal, serta metode pembayaran yang familiar bagi mereka seperti QR Code dari Alipay dan WeChat Pay akan memiliki keunggulan dalam melayani wisatawan China secara lebih optimal.

Dalam konteks ini, peran perusahaan fintech pembayaran seperti DOKU menjadi semakin relevan, dengan menghadirkan ekosistem pembayaran yang luas dan terintegrasi untuk membantu merchant melayani wisatawan internasional dengan lebih mudah, aman, dan efisien. Dengan strategi layanan, teknologi, dan pemasaran yang tepat, potensi pasar wisatawan China dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Siap menangkap peluang dari wisatawan China? Pastikan sediakan metode pembayaran bisnis yang familiar.
Konsultasikan kebutuhan pembayaran bersama tim DOKU