Ini Peluang Bisnis Imlek dan Ramadan: Industri Mana yang Siap Melesat?

peluang bisnis imlek
Table of Contents

Key Takeaways:

  1. Peluang bisnis Imlek 2026 meningkat karena berdekatan dengan Ramadan dan membentuk satu siklus konsumsi yang saling terhubung.
  2. F&B & hampers, fashion & retail, travel & hospitality, serta grocery & essentials menjadi sektor paling berpotensi tumbuh.
  3. Kunci sukses peluang bisnis Imlek ada pada strategi yang relevan lintas momen dan pengalaman pembayaran yang praktis serta seamless.

Tahun 2026 menjadi momentum tepat bagi pelaku bisnis di Indonesia, karena perayaan Imlek dan Ramadan berlangsung berdekatan di bulan Februari ini. Dua “musim konsumsi” yang hadir hampir bersamaan ini berpotensi mendorong lonjakan transaksi di sejumlah sektor, sekaligus menuntut strategi yang lebih presisi agar bisnis tidak terjebak perang harga di tengah daya beli yang semakin selektif.

Ramadan: Konsumsi Naik, Tapi Lebih Selektif

Bulan Ramadan selalu menjadi periode peningkatan konsumsi, khususnya untuk kebutuhan makanan, minuman, mudik hingga persiapan hari raya. Hal ini tetap menjadi pendorong transaksi. Seperti pada survey GoodStat, budget tambahan di bulan ramadan 2025 banyak dialokasikan untuk bukber (50,7%), infaq/sedekah (25,8%), pakaian/alas kaki (13,5%), hadiah (5,4%), dll.

Imlek: Konsumsi Berbasis Tradisi & Gifting

Imlek atau Chinese New Year dikenal sebagai momen dengan lonjakan konsumsi berbasis tradisi dan makna, khususnya di sektor retail, makanan, gifting, dan travel. Mereka yang merayakan Imlek tetap mendorong permintaan untuk produk seperti hampers, makanan khas Imlek, fashion, dan dekorasi khasnya.

Peluang Bisnis Imlek dan Ramadan, Ini Industri yang Siap Melesat!

Momentum Imlek dan Ramadan menciptakan kombinasi unik antara konsumsi berbasis makna perayaan dan konsumsi berbasis kebutuhan fungsional. Implikasinya, strategi bisnis tidak bisa diseragamkan, melainkan harus disesuaikan per industri, baik dari sisi produk, promosi, maupun pengalaman transaksi.

1. F&B & Hampers

Mengapa berpotensi thriving?

Pada Imlek, konsumsi F&B dan hampers sangat dipengaruhi oleh tradisi berbagi dan simbol keberuntungan. Produk tidak hanya dibeli untuk dikonsumsi, tetapi juga sebagai media menjaga relasi keluarga, kolega, dan mitra bisnis.

Memasuki Ramadan, pola konsumsi bergeser menjadi lebih fungsional dan rutin—untuk sahur, berbuka, serta kebutuhan keluarga. Namun, momentum sosial seperti buka puasa bersama dan saling kirim hampers Lebaran tetap membuat sektor ini menjadi pemicu transaksi paling awal.

Artinya, F&B berada pada dua gelombang sekaligus:

  • gelombang gifting & simbolik (Imlek),
  • gelombang konsumsi rutin & sosial (Ramadan).

Strategi bisnis:

  • Rancang produk lintas musim (Imlek → Ramadan → Lebaran) dengan diferensiasi kemasan, bukan hanya produknya.
  • Dorong pre-order dan scheduled delivery untuk menangkap pembelian terencana.
  • Buat bundling menu / paket hampers untuk meningkatkan nilai transaksi.
  • Optimalkan channel pembayaran digital untuk mengakomodasi pembelian impulsif dan repeat order.

Baca juga:

2. Fashion & Retail

Mengapa berpotensi thriving?

Baik Imlek maupun Lebaran sama-sama identik dengan simbol “awal baru” yang diwujudkan lewat pembelian pakaian dan produk personal. Namun, motivasi konsumen berbeda.

Pada Imlek, pembelian lebih bernuansa ekspresi budaya dan simbol keberuntungan. Pada Ramadan dan Lebaran, pembelian lebih berkaitan dengan kebutuhan sosial: silaturahmi, ibadah, dan kebersamaan keluarga.

Baca juga: Intip Rahasia Sukses Bisnis Fashion HGL yang Hits di Bandung

Di tengah konsumen yang semakin rasional, fashion tidak sepenuhnya hilang dari prioritas, namun berubah menjadi:

  • lebih selektif,
  • lebih mempertimbangkan fungsi,
  • lebih fokus pada produk yang bisa dipakai lintas momen.

Strategi bisnis:

  • Tawarkan koleksi yang relevan lintas perayaan (bukan hanya desain musiman yang cepat usang namun juga timeless).
  • Dorong mix-and-match concept agar konsumen merasa produknya lebih bernilai guna.
  • Manfaatkan campaign tematik bertahap (Imlek → Ramadan → Lebaran) untuk menjaga awareness lebih panjang.
  • Pastikan integrasi pembayaran mulus untuk kemudahan konsumen agar mengurangi cart abandonment di tahap checkout.

Baca juga: Evolusi Haute Couture Indonesia: Dari Runway ke Market Ecommerce

3. Travel & Hospitality

Mengapa berpotensi thriving?

Imlek dan Ramadan mendorong dua tipe perjalanan yang berbeda:

  • Imlek cenderung memicu short getaway, family trip, atau staycation.
  • Ramadan dan Lebaran mendorong perjalanan seperti mudik dan liburan keluarga.

Walau sensitivitas harga meningkat, kebutuhan untuk bepergian tetap ada. Yang berubah adalah cara konsumen mengambil keputusan: lebih berhati-hati, lebih membandingkan, dan lebih mengandalkan promo serta fleksibilitas.

Baca juga: Service Excellence, Rahasia DOKU di Balik Tantangan Industri Travel

Permintaan di sektor ini tidak melonjak sekaligus, tetapi muncul bertahap mengikuti kalender libur dan agenda keluarga.

Strategi bisnis:

  • Tawarkan paket fleksibel (reschedule, refund, atau open date).
  • Kembangkan bundling transportasi–akomodasi–aktivitas agar lebih terasa value for money.
  • Optimalkan skema cicilan atau paylater dan metode pembayaran alternatif untuk menurunkan hambatan pembelian.
  • Perkuat kampanye early booking untuk mengamankan demand lebih awal.

Baca juga: Pahami Peluang Industri Travel & Hospitality Dengan Rekomendasi Produk, Fitur Hingga Metode Pembayaran DOKU Payment Gateway DOKU

4. Grocery & Essentials

Mengapa berpotensi thriving?

Grocery dan kebutuhan pokok adalah sektor yang paling stabil di tengah perubahan daya beli.

Pada Ramadan, konsumsi meningkat karena:

  • frekuensi memasak dan makan di rumah lebih tinggi,
  • kebutuhan sahur dan berbuka,
  • persiapan stok hingga Lebaran.

Sementara pada Imlek, terdapat tambahan permintaan pada produk-produk khas perayaan dan dekorasi rumah.

Menariknya, sektor ini cenderung menghasilkan:

  • transaksi berulang,
  • volume tinggi,
  • dan tingkat loyalitas yang kuat bila pengalaman belanja memuaskan.

Strategi bisnis

  • Pastikan ketersediaan stok dan distribusi pada produk-produk fast moving.
  • Dorong repeat order model untuk kebutuhan harian.
  • Optimalkan solusi pembayaran cepat ‘jemput konsumen’ untuk bertransaksi bernilai kecil namun sering seperti payment link atau QRIS.

Baca juga: Pahami Peluang Industri Ritel Dengan Rekomendasi Produk, Fitur Hingga Metode Pembayaran DOKU Payment Gateway

Saatnya Mengoptimalkan Siklus Konsumsi Imlek dan Ramadan 

Imlek dan Ramadan yang perayaannya berdekatan di tahun 2026 ini dapat membentuk satu siklus konsumsi yang saling terhubung. Di periode ini, pola belanja bergerak dinamis dari konsumsi berbasis tradisi dan makna simbolik, menuju kebutuhan rutin, sosial, dan persiapan hari raya.

Kunci agar bisnis benar-benar thriving tidak semata terletak pada besarnya diskon, melainkan pada kemampuan membaca pergeseran motivasi konsumen, kapan mereka digerakkan oleh emosi dan makna, dan kapan mereka menjadi lebih rasional dan fungsional. Ditambah dengan ketepatan menangkap timing pembelian serta kesiapan menghadirkan pengalaman transaksi yang mulus, cepat, dan aman di berbagai kanal.

Di sinilah peran teknologi pembayaran menjadi penting. Sebagai perusahaan fintech pembayaran, DOKU memfasilitasi bisnis menangkap peluang konsumsi seperti Imlek dan Ramadan melalui solusi pembayaran digital yang adaptif, mulai dari berbagai metode pembayaran hingga dukungan transaksi yang aman dan efisien. Dengan fondasi pembayaran yang tepat, bisnis dapat lebih fokus pada strategi pertumbuhan, sementara pengalaman transaksi yang seamless menjadi enabler utama dalam memenangkan kompetisi musiman yang semakin kompetitif.

Optimalkan transaksi di momen Imlek × Ramadan agar setiap peluang transaksi tidak terlewat
Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama DOKU