Key Takeaways:
- AI mengubah peran pekerja dan kompetensi yang dibutuhkan, sehingga bisnis membutuhkan talenta yang mampu berkolaborasi dengan AI.
- Mulai adopsi AI dari kebutuhan bisnis. Pilih use case yang jelas, relevan, dan memiliki dampak terukur.
- Manfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. Dari otomatisasi hingga risk & fraud management, AI dapat membantu bisnis bekerja lebih efektif dengan tetap memperhatikan keamanan data.
Kalau AI bisa mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, apakah bisnis nantinya masih membutuhkan tenaga kerja sebanyak sekarang?
Kekhawatiran ini wajar muncul ketika AI semakin mampu mengotomatisasi berbagai pekerjaan rutin, terlebih di tengah isu PHK yang kerap dikaitkan dengan efisiensi dan penggantian sejumlah pekerjaan oleh AI.
Namun, dampaknya bagi dunia kerja tidak sesederhana manusia yang digantikan oleh teknologi. Di saat sebagian tugas mulai dapat dikerjakan oleh AI, muncul pula kebutuhan terhadap talenta yang mampu bekerja berdampingan dan berkolaborasi dengan AI untuk menghasilkan dampak yang lebih besar.
Bagi pelaku bisnis, perkembangan ini tidak hanya menyangkut penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana pekerjaan dilakukan, kompetensi apa yang dibutuhkan, dan bagaimana talenta dikembangkan. Memahami manfaat AI bagi bisnis menjadi bagian penting agar penerapannya tidak berhenti hanya untuk mengikuti perkembangan teknologi saja.
Lantas, bagaimana bisnis seharusnya menyikapi perubahan ini? Untuk menjawabnya, kami menggali pandangan Ricky Hilmi (Product Marketing Manager DOKU), yang sehari-hari bergelut dengan penerapan AI di industri pembayaran.
Plot Twist di Balik Data 92 Juta Pekerjaan yang Tergantikan
Sebelum melihat lebih jauh bagaimana AI mengubah dunia kerja, ada satu data yang menarik untuk diperhatikan. World Economic Forum (WEF) memproyeksikan sekitar 92 juta pekerjaan akan tergantikan hingga 2030 akibat berbagai perubahan struktural, termasuk perkembangan teknologi. Angka ini memang dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika dikaitkan dengan isu PHK dan otomatisasi pekerjaan.
Namun, ada angka lain dalam laporan yang sama yang memberikan perspektif berbeda. Sebanyak 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan akan tercipta dalam periode tersebut. Artinya, terdapat potensi penambahan sekitar 78 juta pekerjaan.
Namun, laporan yang sama menunjukkan sisi lain. Sebanyak 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan akan tercipta dalam periode tersebut. Artinya, terdapat potensi penambahan sekitar 78 juta pekerjaan secara neto.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak serta-merta mengurangi kebutuhan terhadap tenaga kerja. Jenis pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan bisnis juga ikut bergeser.
Menurut Ricky Hilmi, kehadiran AI lebih banyak mendorong perubahan pada peran tenaga kerja dibandingkan menghilangkan pekerjaan.
“Menurut saya, hadirnya AI lebih banyak mengubah peran tenaga kerja dibanding menghilangkan pekerjaan. Memang ada tugas-tugas rutin yang mulai diotomatisasi. Tapi di saat yang sama, muncul kebutuhan baru akan talenta yang mampu bekerja berdampingan dengan AI,” ujarnya.
Bagi bisnis, hal ini berarti perhatian tidak cukup diarahkan pada berapa banyak pekerjaan yang dapat diotomatisasi, tetapi juga pada bagaimana peran talenta dapat dikembangkan untuk melengkapi kemampuan AI.
Baca juga: AI Agent Toolkit: Cara Baru Integrasi Payment Gateway Lebih Cepat
Menentukan Arah Sebelum Mengadopsi AI
Jika AI sudah semakin mudah diakses dan manfaat AI mulai terlihat di berbagai aktivitas bisnis, mengapa masih banyak bisnis yang ragu untuk mengadopsinya?
Menurut Ricky, tantangannya bukan karena pebisnis tidak melihat manfaat AI. Persoalannya justru terletak pada bagaimana menentukan penerapan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan bisnis.
“Hal yang paling sering kami temui sebenarnya bukan karena pebisnis tidak mau menggunakan AI, tapi mereka bingung harus mulai dari mana,” ujarnya.
Saat ini, ketersediaan teknologi bukan lagi menjadi persoalan utama. Berbagai tools AI sudah dapat membantu pekerjaan, mulai dari tugas administratif hingga proses yang membutuhkan analisis. Tantangannya adalah menentukan use case spesifik yang dapat memberikan Return on Investment (ROI) atau dampak bisnis yang jelas.
Tanpa tujuan yang terukur, adopsi AI berisiko berhenti pada tahap mencoba teknologi tanpa arah yang jelas. Bisnis juga perlu memperhatikan bagaimana data digunakan, dikelola, dan dilindungi ketika AI mulai terlibat dalam proses kerja.
Karena itu, penerapan AI sebaiknya dimulai dari kebutuhan bisnis yang konkret, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
Ketika AI Mulai Terlibat dalam Proses Bisnis
AI kini mulai digunakan untuk fungsi yang lebih luas, tidak hanya membuat konten atau membantu pekerjaan administratif. Teknologi ini dapat mendukung berbagai proses bisnis dan menjalankan tugas tertentu secara lebih mandiri.
“Sekarang AI menjadi rekan kerja yang bisa mengeksekusi tugas di berbagai fungsi bisnis,” kata Ricky.
Penerapannya pun semakin beragam. Tim marketing dapat memanfaatkannya untuk riset dan menyusun strategi, tim produk menggunakannya untuk mempercepat pengembangan fitur, sementara tim operasional dapat mengandalkan AI untuk menangani pekerjaan manual dan repetitif.
Perubahan tersebut menandai cara baru dalam memandang peran AI di tempat kerja.
“AI bukan lagi jadi alat bantu pasif yang menunggu perintah, melainkan rekan kerja yang aktif berkolaborasi untuk berdampak positif bagi bisnis,” tegas Ricky.
Di industri pembayaran, misalnya, AI dapat membantu mendeteksi transaksi mencurigakan secara real time sehingga proses pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat. Dengan peran yang semakin luas, AI menjadi bagian dari proses kerja yang perlu dirancang untuk melengkapi kemampuan manusia, bukan berjalan terpisah dari tim.
Jadi, Bisnis Harus Mulai dari Mana?
Bagi bisnis yang ingin mulai mengadopsi AI, titik awalnya tidak harus berupa teknologi yang paling canggih. Kebutuhan bisnis justru dapat menjadi panduan pertama.
“Bisa mulai dari kebutuhan bisnis yang paling nyata, jangan hanya ikut tren,” katanya.
Bisnis dapat terlebih dahulu mengidentifikasi proses yang paling membutuhkan perbaikan. Jika tantangannya adalah keamanan transaksi, misalnya, AI dapat diarahkan untuk mendukung risk and fraud management. Sementara jika tim terlalu banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan repetitif, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mengotomatisasi tugas-tugas tersebut.
Pendekatan ini membantu bisnis memastikan bahwa penerapan AI memiliki tujuan yang jelas dan dampak yang dapat diukur, sehingga manfaat AI dapat dirasakan secara nyata dalam proses bisnis.
“Kuncinya, jadikan AI sebagai pendorong produktivitas dan pemberi dampak terukur bagi bisnis,” lanjutnya.
Selain menentukan use case, bisnis juga perlu memperhatikan aspek keamanan data dan privasi pelanggan. Pemilihan teknologi dan penyedia layanan dengan standar keamanan serta kepatuhan yang jelas menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
“Sangat aman, selama kita memilih penyedia teknologi yang punya standar keamanan dan regulasi yang jelas, juga tetap memprioritaskan keamanan data serta privasi pelanggan,” jawab Ricky.
Dengan begitu, keberhasilan adopsi AI tidak ditentukan oleh seberapa cepat bisnis menggunakannya, tetapi seberapa tepat teknologi tersebut menjawab kebutuhan bisnis.
Baca juga: Mengenal MCP: ‘Jembatan’ Teknologi AI ke Dunia Transaksi Cerdas
Apa Peran DOKU di Tengah Pergeseran Ini?
Perubahan cara kerja bersama AI turut mendorong perkembangan teknologi di industri pembayaran. Sebagai perusahaan fintech pembayaran, DOKU memanfaatkan AI untuk mendukung proses internal sekaligus mengembangkan solusi yang dapat membantu bisnis menghadapi kebutuhan pembayaran yang terus berkembang.
“Fondasinya tentu dari sisi keamanan, kami memanfaatkan AI untuk risk & fraud management agar approval rate transaksi merchant tetap tinggi,” jelas Ricky.
Pemanfaatan AI tersebut kemudian berkembang ke area yang lebih luas. DOKU mendorong bisnis untuk tidak hanya menggunakan AI (use AI), tetapi juga membangun solusi bersama AI (build with AI) sesuai kebutuhan dan proses bisnisnya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, DOKU menghadirkan Agent Toolkit yang membantu developer mengintegrasikan sistem pembayaran dengan aplikasi dan teknologi berbasis AI. DOKU juga menyediakan MCP Server yang memungkinkan AI Agent terhubung dengan infrastruktur pembayaran DOKU, sehingga membuka peluang bagi proses checkout dan pembayaran yang dapat dijalankan melalui AI Agent.
Dalam penerapannya, aspek keamanan dan kontrol transaksi tetap menjadi bagian penting agar inovasi pembayaran dapat berjalan sejalan dengan kebutuhan bisnis dan pelanggan.
“Jadi, DOKU tidak hanya menjaga transaksi tetap aman, tapi juga menyediakan tools agar bisnis bisa tumbuh dan memberikan pengalaman pembayaran yang terbaik untuk pelanggan,” tutup Ricky.
Saatnya Bisnis Beradaptasi dengan AI
Pada akhirnya, kehadiran AI membawa bisnis pada satu perubahan penting, cara kita mendefinisikan pekerjaan dan produktivitas ikut berubah. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga manusia dapat ditangani teknologi, sementara manusia dapat mengalokasikan kapasitasnya pada pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan, kreativitas, dan pengambilan keputusan.
Bagi pelaku bisnis, perubahan ini bukan sesuatu yang perlu ditunggu hingga menjadi kebutuhan. Semakin awal bisnis memahami bagaimana AI dapat bekerja bersama tim, semakin besar peluang untuk memanfaatkan AI secara tepat dan mendapatkan manfaat AI yang relevan bagi perkembangan bisnis.
