Key Takeaways
- Bisnis scale up membawa kebutuhan pembayaran yang semakin kompleks, terutama ketika volume transaksi, jumlah cabang, dan cakupan pasar mulai bertambah.
- Bisnis yang ingin scale up perlu menyiapkan sistem pembayaran yang scalable, mulai dari settlement dan rekonsiliasi hingga keamanan transaksi, integrasi teknologi, dan kesiapan ekspansi.
- Infrastruktur pembayaran perlu dipandang sebagai bagian dari strategi scale up bisnis, bukan sekadar alat untuk menerima pembayaran dari pelanggan.
Bagi bisnis menengah maupun local brand, pertumbuhan bisnis biasanya membawa hal baik, seperti pelanggan bertambah, transaksi meningkat, outlet mulai berkembang, bahkan ekspansi ke kota atau negara lain mulai dipertimbangkan.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu apakah sistem pembayaran sudah siap mengikuti pertumbuhan tersebut?
Saat bisnis masih berada di tahap awal, menerima pembayaran melalui QRIS atau beberapa metode pembayaran digital mungkin sudah cukup. Tetapi ketika bisnis mulai scale up, jumlah transaksi, cabang, dan kebutuhan operasional ikut meningkat. Pada tahap ini, sistem pembayaran pun perlu mampu mengikuti kompleksitas bisnis.
Head of SME Business DOKU, Hasto Kusumo, melihat bahwa kebutuhan pembayaran bisnis sebaiknya tidak disamaratakan berdasarkan skala usaha. Bisnis yang sedang berkembang memiliki kebutuhan yang lebih kompleks dibandingkan bisnis yang baru mulai menerima pembayaran digital.
7 Hal yang Perlu Disiapkan Bisnis untuk Scale Up
Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan bisnis menengah dan local brand saat mulai scale up?
1. Pastikan Sistem Pembayaran Bisa Mengikuti Skala Bisnis
Pertumbuhan bisnis biasanya diikuti oleh meningkatnya volume transaksi dan kompleksitas operasional.
Ketika bisnis baru memiliki satu outlet, misalnya, proses menerima pembayaran dan mencatat transaksi mungkin masih relatif sederhana. Namun, ketika sudah memiliki banyak cabang, kebutuhan dapat berkembang menjadi bagaimana uang dari berbagai lokasi dapat dikelola, disalurkan, dan direkonsiliasi dengan lebih efisien.
Karena itu, bisnis perlu melihat sistem pembayaran bukan hanya dari pertanyaan “Apakah pelanggan bisa membayar?”, tetapi juga:
- Apakah transaksi dari berbagai outlet dapat dikelola dengan baik?
- Apakah settlement dapat dilakukan sesuai kebutuhan bisnis?
- Bagaimana proses rekonsiliasi ketika jumlah transaksi semakin banyak?
- Apakah sistem dapat mendukung operasional ketika bisnis membuka lebih banyak cabang?
Menurut Hasto, kebutuhan merchant dapat berada di rentang yang sangat luas, mulai dari menerima pembayaran QRIS hingga kebutuhan settlement otomatis untuk bisnis dengan ratusan cabang.
- Tips untuk Bisnis: pilih infrastruktur pembayaran yang dapat berkembang bersama bisnis, sehingga ketika volume transaksi dan jumlah cabang meningkat, sistem tidak perlu terus-menerus dibangun ulang.
2. Sederhanakan Settlement Dan Rekonsiliasi Sejak Awal
Semakin banyak cabang, semakin banyak pula alur transaksi yang perlu dipantau.
Bayangkan sebuah local brand yang sudah memiliki puluhan atau ratusan outlet. Jika seluruh transaksi masuk ke satu alur pengelolaan uang, proses untuk mengetahui transaksi dari masing-masing cabang hingga membuat laporan keuangan dapat menjadi semakin kompleks.
Di sinilah settlement dan rekonsiliasi menjadi bagian penting dari infrastruktur pembayaran.
Salah satu pengalaman yang dibagikan Hasto adalah ketika DOKU membantu jaringan bengkel dengan ratusan cabang. Melalui fitur Split Settlement, alur dana dapat disesuaikan sehingga membantu menyederhanakan pengelolaan keuangan antara cabang dan kantor pusat.
- Tips untuk bisnis: jangan menunggu jumlah cabang terlalu banyak untuk mulai memikirkan struktur settlement dan rekonsiliasi. Semakin awal prosesnya dirancang, semakin mudah sistem mengikuti pertumbuhan bisnis.
3. Jangan Memilih Antara Keamanan Atau Kenyamanan Pelanggan
Volume transaksi yang semakin besar juga berarti semakin pentingnya menjaga keamanan pembayaran.
Namun, keamanan tidak selalu berarti menambahkan sebanyak mungkin tahapan verifikasi pada setiap transaksi. Terlalu banyak proses tambahan justru dapat menciptakan friksi bagi pelanggan.
Menurut Hasto, pendekatan yang dapat digunakan adalah layered, risk-based approach. Artinya, tingkat pengamanan dapat disesuaikan dengan risiko sebuah transaksi. Transaksi dengan pola normal dapat berjalan dengan minim friksi, sementara transaksi yang menunjukkan anomali dapat memperoleh lapisan verifikasi atau autentikasi tambahan.
Pengamanan juga tidak hanya dilakukan ketika transaksi berlangsung. Verifikasi merchant dan pemantauan setelah transaksi menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan ekosistem pembayaran.
- Tips untuk bisnis: ketika memilih solusi pembayaran, perhatikan bukan hanya metode pembayarannya, tetapi juga bagaimana keamanan transaksi dan pengalaman pelanggan dikelola secara bersamaan.
4. Mulai Melihat AI Dari Sisi Kebutuhan Bisnis
AI semakin banyak digunakan dalam berbagai proses bisnis. Bagi bisnis yang mulai mengadopsinya, infrastruktur pembayaran juga perlu memiliki kemampuan untuk mendukung workflow yang semakin terintegrasi dengan teknologi.
Hasto melihat implementasi AI dalam pembayaran tidak perlu berhenti pada fitur yang sekadar terlihat canggih. Pemanfaatannya dapat diarahkan pada dua kebutuhan operasional yang penting yakni proteksi dan efisiensi.
Artinya, bisnis dapat mulai melihat AI bukan hanya sebagai teknologi tambahan, tetapi sebagai bagian dari bagaimana proses operasional dan pembayaran dapat berjalan lebih efisien dan aman.
- Tips untuk bisnis: jika bisnis sudah mulai menggunakan AI dalam operasional, pastikan sistem pembayaran yang digunakan juga memiliki kesiapan untuk terintegrasi dengan workflow berbasis teknologi tersebut.
5. Siapkan Infrastruktur Pembayaran Sebelum Ekspansi
Ekspansi sering kali dimulai dari pertanyaan: “Di mana pasar berikutnya?”
Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: “Apakah sistem bisnis kita siap melayani pasar tersebut?”
Bagi local brand yang mulai mempertimbangkan ekspansi internasional, kebutuhan pembayaran dapat menjadi lebih kompleks. Bisnis tidak hanya perlu menerima pembayaran dari pelanggan luar negeri, tetapi juga perlu mempertimbangkan metode pembayaran lokal, mata uang, settlement, rekonsiliasi, hingga manajemen risiko di masing-masing pasar.
Karena itu, infrastruktur pembayaran sebaiknya mulai dipersiapkan sejak tahap perencanaan ekspansi, bukan ketika volume transaksi sudah terlanjur besar.
- Tips untuk bisnis: sebelum masuk ke pasar baru, petakan terlebih dahulu bagaimana pelanggan di pasar tersebut melakukan pembayaran dan pastikan sistem bisnis mampu mendukung kebutuhan tersebut.
6. Jangan Hanya Mengejar Pertumbuhan Transaksi
Pertumbuhan penjualan tentu menjadi salah satu indikator penting bagi bisnis. Namun, semakin besar bisnis, semakin penting pula memastikan bahwa operasional dan keuangan mampu mengikuti pertumbuhan tersebut.
Menurut Hasto, ekspansi sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai upaya memperluas penjualan. Bisnis juga perlu membangun fondasi yang scalable, memahami pasar yang dituju, serta memastikan operasional dan cash flow siap mengikuti pertumbuhan.
Dengan kata lain, scale up bisnis bukan hanya tentang meningkatkan transaksi, tetapi juga memastikan sistem pendukungnya mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut.
- Tips untuk bisnis: saat membuat target pertumbuhan, ikut ukur kesiapan sistem pendukungnya mulai dari payment, cash flow, operasional, hingga customer experience.
7. Bangun Kanal Penjualan Yang Lebih Mandiri
Pertumbuhan bisnis digital juga membawa kebutuhan lain seperti membangun kanal penjualan yang lebih mandiri.
Ketergantungan pada satu channel dapat menjadi risiko ketika bisnis berkembang. Karena itu, local brand perlu mulai mempertimbangkan bagaimana membangun owned channel yang memungkinkan mereka memiliki hubungan yang lebih langsung dengan pelanggan.
Kanal tersebut dapat berjalan berdampingan dengan marketplace maupun platform lain. Tujuannya bukan sekadar menambah channel penjualan, tetapi membangun ekosistem digital yang lebih terintegrasi dengan operasional bisnis.
Di sisi lain, bisnis juga perlu memiliki kemampuan untuk mengelola cash flow dan memitigasi risiko fraud secara lebih mandiri. Hal ini menjadi bagian penting dari kesiapan bisnis menengah dalam membangun operasional digital yang semakin matang.
Saatnya Menyesuaikan Sistem Pembayaran dengan Arah Pertumbuhan
Setiap tahap pertumbuhan membawa kebutuhan yang berbeda. Ketika bisnis mulai memperluas operasional, membuka cabang baru, atau menjangkau pelanggan di pasar yang berbeda, cara mengelola pembayaran pun perlu ikut dipertimbangkan kembali.
Karena itu, evaluasi sistem pembayaran tidak harus menunggu sampai muncul kendala. Bisnis dapat mulai melihat kembali apakah sistem yang digunakan saat ini masih relevan dengan volume transaksi, model operasional, dan rencana pertumbuhan ke depan.
Dengan perencanaan yang tepat, pembayaran dapat menjadi bagian dari operasional yang mendukung bisnis bergerak lebih leluasa, bukan justru menjadi proses yang menghambat ketika skala usaha semakin besar.
Ingin memahami lebih jauh tantangan pembayaran yang dihadapi bisnis menengah?
Simak pandangan Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, mengenai bagaimana bisnis menengah dapat menghadapi perubahan kebutuhan pembayaran di era digital.
