Key Takeaways
- Sebanyak 97% Gen Z telah mengadopsi praktik sustainability dalam keseharian mereka, menjadikannya segmen pasar yang semakin strategis bagi bisnis.
- Kesadaran Gen Z terhadap sustainable living membuka peluang bisnis di berbagai sektor, mulai dari produk ramah lingkungan, fashion berkelanjutan, health & wellness, hingga bisnis lokal dan UKM.
- Produk dan narasi yang kuat saja tidak cukup, pengalaman transaksi yang seamless menjadi faktor penting untuk mengkonversi minat Gen Z menjadi pembelian nyata.
Gen Z tidak lagi hanya membeli produk, tetapi juga membeli nilai yang mereka yakini. Salah satu nilai yang semakin mendapat perhatian adalah sustainability atau keberlanjutan. Konsumen muda kini lebih sadar terhadap dampak lingkungan dan sosial dari produk yang mereka gunakan.
Mulai dari kemasan ramah lingkungan hingga transparansi bisnis dalam menjalankan operasionalnya, berbagai aspek sustainability mulai mempengaruhi keputusan pembelian. Bagi bisnis, perubahan ini menjadi sinyal penting bahwa strategi keberlanjutan dapat menjadi faktor yang mempengaruhi persepsi brand dan loyalitas pelanggan.
Gen Z Mulai Mempertimbangkan Sustainability Saat Berbelanja
Berdasarkan riset Jakpat mengenai Sustainable Living Behavioral Stages, Gen Z menunjukkan tingkat kesadaran, adopsi, dan niat berkelanjutan yang lebih tinggi dibanding generasi lainnya.
Sebanyak 87% Gen Z memiliki awareness terhadap gaya hidup berkelanjutan, 97% telah mengadopsi setidaknya beberapa praktik sustainability, dan 80% memiliki niat untuk terus menerapkannya di masa depan.
Temuan ini menunjukkan bahwa sustainability bukan lagi sekadar isu yang mereka pahami, tetapi sudah mulai tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat memilih produk dan brand.
Peluang Bisnis di Balik Kesadaran Sustainable Living Gen Z
Data riset Jakpat juga menunjukkan bahwa Gen Z mulai merasakan manfaat nyata dari gaya hidup berkelanjutan, mulai dari lingkungan rumah yang lebih bersih (59%), pengurangan limbah pribadi (51%), hingga kepedulian terhadap pelestarian alam (48%). Tren ini bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi juga sinyal pasar yang menarik bagi bisnis.
Beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan:
1. Produk & Layanan Ramah Lingkungan

Meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap kebersihan rumah dan pengurangan limbah membuka peluang bagi bisnis produk rumah tangga, cleaning product, hingga pengelolaan sampah berbasis langganan.
Contoh bisnis yang dapat berkembang di segmen ini antara lain:
- Produk pembersih rumah tangga refill-based: Model bisnis isi ulang yang mengurangi kemasan plastik sekali pakai.
- Jasa pengelolaan sampah berbasis langganan: Layanan pemilahan dan daur ulang sampah rumah tangga secara berkala.
- Produk perawatan rumah berbahan organik: Sabun, disinfektan, hingga pengharum ruangan dari bahan alami tanpa bahan kimia berbahaya.
2. Retail & Fashion Berkelanjutan

Kepedulian terhadap kumpulan barang yang tidak perlu (51%) menjadi peluang bagi bisnis thrift, upcycling, atau brand fashion lokal dengan pendekatan slow fashion.
Contoh bisnis yang relevan:
- Platform thrift & preloved online: marketplace khusus pakaian bekas berkualitas dengan kurasi produk yang menarik bagi Gen Z.
- Brand fashion lokal slow fashion: koleksi terbatas dengan bahan berkelanjutan dan narasi produksi yang transparan.
- Jasa upcycling pakaian: layanan ubah pakaian lama menjadi item baru yang bernilai estetika lebih tinggi.
Baca juga: 7 Contoh Sustainability yang Simpel dan Realistis bagi Bisnis
3. Health & Wellness

Manfaat kesehatan fisik yang dirasakan (42%) membuka ruang bagi bisnis di sektor makanan sehat, olahraga, hingga produk personal care berbahan alami.
Beberapa contoh bisnis yang dapat menjawab kebutuhan ini:
- Brand makanan & minuman plant-based: Produk berbasis nabati yang menyasar gaya hidup sehat sekaligus ramah lingkungan.
- Studio olahraga berbasis komunitas: Yoga, pilates, atau outdoor fitness yang mengintegrasikan nilai sustainability dalam operasionalnya.
- Produk personal care clean beauty: Skincare dan haircare tanpa bahan berbahaya, dikemas dengan material daur ulang.
4. Bisnis Lokal & UKM

Gen Z juga mulai sadar pentingnya mendukung bisnis lokal (32%), menjadikan ini momentum bagi brand lokal untuk membangun narasi keberlanjutan yang autentik dan relevan.
Contoh bisnis yang dapat memanfaatkan tren ini:
- Kafe & restoran farm-to-table: Bisnis kuliner yang mengedepankan bahan lokal dan konsep zero-waste dalam operasionalnya.
- Brand kerajinan lokal berbahan daur ulang: Produk dekorasi, aksesori, atau peralatan rumah dari material daur ulang dengan sentuhan budaya lokal.
- Toko groceries lokal berbasis komunitas: Menjual produk segar dari petani lokal dengan konsep tanpa kemasan berlebih.
Bagi bisnis yang ingin menjangkau Gen Z, mengintegrasikan nilai keberlanjutan bukan lagi sekadar diferensiasi. melainkan kebutuhan untuk tetap relevan di mata konsumen masa depan.
Saatnya Bisnis Berkelanjutan Bertumbuh Lebih Jauh
Kesadaran Gen Z terhadap sustainable living bukan tren sesaat, ini adalah pergeseran perilaku konsumen yang akan terus berkembang. Bisnis yang bergerak lebih awal akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih besar dalam menjangkau pasar ini.
Namun, produk dan narasi yang kuat saja tidak cukup. Gen Z adalah generasi digital yang mengharapkan pengalaman transaksi yang seamless di setiap titik pembelian. Di sinilah DOKU hadir bagi Anda dengan solusi pembayaran digital yang membantu bisnis untuk menghilangkan hambatan transaksi dan menghadirkan pengalaman belanja yang lebih mudah dan terpercaya bagi konsumen muda.
