Waspada Voice Phishing! Ada Ancaman Di Balik Suara yang Meyakinkan

apa itu voice phishing
Table of Contents

Key Takeaways:

  1. Voice phishing adalah evolusi penipuan phising berbasis rekayasa sosial yang kini diperkuat oleh teknologi AI dan deepfake dengan modus seperti penyamaran sebagai pihak tertentu
  2. Teknologi deepfake dan voice cloning membuat pelaku mampu meniru suara figur terpercaya untuk mendorong korban memberikan data sensitif.
  3. Pencegahan vishing membutuhkan kombinasi kesadaran karyawan, verifikasi yang disiplin, dan perlindungan sistem keamanan internal, karena satu panggilan telepon dapat berdampak besar pada keamanan dan reputasi bisnis.

Transformasi digital membuka banyak peluang bagi pertumbuhan bisnis, namun di saat yang sama juga menghadirkan risiko baru dalam bentuk kejahatan siber. Jika sebelumnya penipuan phishing identik dengan email palsu atau pesan singkat (smshing), kini muncul modus yang semakin sulit dikenali: voice phishing atau vishing.

Dengan memanfaatkan panggilan telepon dengan teknologi AI, pelaku mampu meniru suara manusia dengan sangat meyakinkan. Bagi pelaku bisnis, ini dapat menjadi ancaman baru yang langsung menyerang keamanan transaksi dan data perusahaan.

Apa Itu Voice Phishing (Vishing)?

Voice phishing atau vishing adalah bentuk penipuan melalui panggilan suara yang bertujuan untuk menipu korban agar memberikan uang atau mengungkapkan informasi pribadi. Pada dasarnya, vishing adalah evolusi dari phone scams lama dengan cara yang lebih licik dan terorganisir.

Pelaku yang disebut dengan “vishers” biasanya menyamar sebagai pihak yang terpercaya, seperti bank, perusahaan teknologi, lembaga pemerintah, vendor, atau organisasi resmi. Mereka mencoba menciptakan narasi yang membuat korban percaya dan bereaksi cepat, termasuk:

  • Menawarkan hadiah besar, produk, atau layanan palsu
  • Mengaku menemukan masalah serius yang harus segera “diselesaikan”
  • Menyatakan bahwa akun korban bermasalah atau perlu diverifikasi
  • Menyampaikan ancaman denda atau konsekuensi hukum jika informasi tidak diberikan

Semua ini dirancang untuk memicu emosi korban, seperti rasa takut, penasaran, atau ketakutan kehilangan kesempatan, sehingga korban memberi informasi sensitif atau bahkan membayar sejumlah uang sesuai permintaan penipu. 

Modus dan Ciri Ciri Voice Phishing

Salah satu alasan utama vishing sangat efektif adalah karena pelaku tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga mengeksploitasi sisi psikologis korban. Penipu kerap menyamar sebagai pihak yang dipercaya, seperti pihak bank, instansi pemerintah, aparat penegak hukum, hingga tim IT perusahaan. Dengan memposisikan diri sebagai figur otoritas, pelaku memanfaatkan kecenderungan alami manusia untuk patuh terhadap pihak yang dianggap berwenang.

Dalam praktiknya, vishers menerapkan berbagai teknik rekayasa sosial untuk menekan korban agar segera mengambil keputusan tanpa sempat melakukan verifikasi.

1. Menciptakan Rasa Takut (Fear)

Pelaku sering mengklaim bahwa rekening korban telah diretas, dana terancam hilang, atau terjadi aktivitas mencurigakan, lalu mendesak korban memberikan data pribadi atau kode verifikasi demi “mengamankan” akun.

Ketakutan akan kehilangan uang atau akses finansial membuat korban bertindak terburu-buru, tanpa sempat memverifikasi kebenaran informasi tersebut.

2. Menimbulkan Kepanikan (Panic)

Dalam modus ini, penipu menyampaikan kabar adanya transaksi tidak sah, pelanggaran keamanan, atau kebocoran data yang harus segera ditangani.

Tekanan waktu dan situasi darurat sengaja diciptakan agar korban panik dan fokus pada penyelesaian cepat, sehingga melewatkan langkah penting seperti mengecek identitas penelepon atau menghubungi pihak resmi secara terpisah.

3. Memainkan Rasa Bersalah dan Tanggung Jawab (Guilt)

Sebagian vishers menyampaikan bahwa mereka telah berusaha keras membantu korban, namun baru sekarang berhasil menghubungi. Narasi ini menimbulkan kesan bahwa korban memiliki kewajiban moral untuk merespons dan bekerja sama.

Rasa bersalah ini membuat korban lebih mudah percaya dan kooperatif, meskipun permintaan yang diajukan sebenarnya tidak wajar.

4. Menawarkan Imbalan atau Bantuan sebagai Pertukaran (Quid Pro Quo)

Dalam skema ini, pelaku menawarkan layanan gratis, seperti bantuan teknis, perbaikan sistem, atau pengecekan keamanan akun, dengan imbalan informasi sensitif, kredensial login, atau kode OTP.

Karena merasa mendapatkan manfaat langsung, korban sering tidak menyadari bahwa informasi yang diberikan justru menjadi pintu masuk utama bagi pelaku untuk mengambil alih akun atau dana.

Bagaimana Cara Kerja Voice Phishing?

Penipuan voice phishing (vishing) pelaku tidak lagi hanya mengandalkan percakapan persuasif, tetapi juga memanfaatkan teknologi deepfake untuk menciptakan identitas palsu yang sangat meyakinkan. Deepfake memungkinkan penipu meniru suara, wajah, bahkan menciptakan sosok digital baru sehingga korban percaya bahwa mereka sedang berkomunikasi dengan orang yang benar-benar dikenal atau dipercaya. Teknik ini membuat proses verifikasi manusia menjadi jauh lebih sulit, terutama dalam situasi mendesak yang menuntut keputusan cepat.

Penyalahgunaan deepfake dalam skema vishing menggunakan cara voice cloning deepfake, yaitu penggunaan algoritma machine learning untuk menyalin suara seseorang secara detail, mulai dari intonasi, aksen, hingga gaya bicara. Teknik ini sering digunakan dalam berbagai modus vishing, misalnya ketika staff finance menerima panggilan dari suara yang terdengar persis seperti atasan dan diminta segera mentransfer dana atau membuka akses sistem.

Target Voice Phishing di Lingkungan Bisnis

Menurut whitepaper VIDA, rekayasa sosial mendominasi ancaman siber pada bisnis saat ini, termasuk phishing (65%), smishing (51%), dan vishing (47%) yang menjadi serangan teratas. Tidak jarang, vishing menyasar staff kasir, finance, admin, atau customer service sebagai titik masuk.

Meski pada dasarnya semua bisnis berpotensi menjadi target, pelaku voice phishing umumnya secara sengaja membidik peran-peran tertentu dalam perusahaan, terutama mereka yang memiliki akses ke sistem, data sensitif, atau kewenangan pengambilan keputusan, serta bisa saja mereka yang memiliki tingkat literasi keamanan yang relatif lebih rendah.

  • Administrator / Staff IT: Menjadi target bernilai tinggi karena mengelola akses ke sistem dan infrastruktur kritis perusahaan. Satu serangan vishing yang berhasil dapat memberikan pelaku kendali luas atas jaringan internal dan data bisnis.

  • Eksekutif C-Level / Pengambil Keputusan Finansial
    Sering disasar dalam skema whale phishing, di mana pelaku melakukan riset mendalam dan menyamar sebagai pihak terpercaya untuk mendapatkan persetujuan atas transaksi keuangan bernilai besar.

  • Staf Layanan Pelanggan
    Terutama yang menangani akun atau data pelanggan. Sifat responsif dan tekanan untuk menyelesaikan masalah dengan cepat membuat peran ini rentan melewati prosedur verifikasi, sehingga membuka celah terjadinya vishing.

Risiko Vishing bagi Bisnis dan Operasional

Jika vishing berhasil, dampaknya meliputi:

  • Pengambilalihan akun / Account Take Over
  • Pengalihan dana ilegal
  • Kebocoran data pelanggan
  • Gangguan layanan transaksi
  • Turunnya kepercayaan mitra dan pelanggan

Dalam bisnis, insiden keamanan tidak hanya berdampak finansial, tetapi juga langsung mempengaruhi reputasi dan keberlanjutan bisnis.

Cara Menghindari Penipuan Voice Phishing

Menghindari voice phishing atau vishing membutuhkan kombinasi antara kesadaran diri sendiri, pemanfaatan teknologi, dan langkah pencegahan yang proaktif. Tanpa pendekatan yang terstruktur, bisnis berisiko menjadi korban penipuan yang berujung pada kebocoran data, kerugian finansial, hingga gangguan operasional. Berikut langkah-langkah yang dapat diterapkan oleh perusahaan.

  1. Selalu Verifikasi Identitas Penelepon

Jika menerima panggilan yang meminta informasi sensitif atau tindakan tertentu, langkah paling aman adalah mengakhiri panggilan dan menghubungi kembali institusi terkait melalui nomor resmi yang telah diverifikasi. Perusahaan perlu membiasakan karyawan untuk memastikan identitas, tujuan, dan afiliasi penelepon sebelum merespons permintaan apa pun. Jika perlu, manfaatkan aplikasi identifikasi dan pemblokiran panggilan. 

  1. Terapkan Multi-Factor Authentication (MFA)

Penggunaan multi-factor authentication (MFA) pada sistem dan data sensitif memberikan lapisan perlindungan tambahan. Dengan MFA, meskipun kredensial berhasil dikumpulkan melalui vishing, pelaku tetap akan kesulitan menembus sistem perusahaan.

  1. Kenali dan Hindari Taktik Tekanan

Pelaku vishing hampir selalu menggunakan tekanan waktu, rasa takut, atau urgensi untuk memaksa korban bertindak cepat. Karyawan perlu dibekali pemahaman bahwa permintaan transfer dana mendadak atau permintaan data sensitif secara mendesak merupakan indikasi kuat penipuan.

  1. Lindungi Akun dari Risiko SIM Swapping

Perusahaan perlu waspada terhadap notifikasi terkait perubahan akun atau permintaan PIN multi-factor yang tidak dikenali. Jika terdapat indikasi SIM swapping, segera hubungi penyedia layanan telekomunikasi untuk mencegah pengambilalihan akun yang dapat dimanfaatkan dalam skema vishing.

  1. Tingkatkan Edukasi dan Kesadaran Karyawan

Pelatihan dan program awareness secara berkala menjadi fondasi utama dalam pencegahan vishing. Dengan edukasi yang tepat, karyawan dapat mengenali pola vishing, memahami risiko, serta mengetahui cara melaporkan percobaan penipuan sejak dini. Semakin tinggi tingkat kesadaran tim, semakin kecil peluang serangan vishing berhasil.

Waspada Voice Phising yang Mengancam Bisnis

Voice phishing (vishing) akan terus berkembang seiring teknologi yang semakin canggih dan kemampuan pelaku dalam memanipulasi identitas terlebih lagi di era AI. Karena itu, kewaspadaan, prosedur yang disiplin, serta sistem keamanan yang kuat menjadi pondasi utama dalam menjaga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan bisnis.