Key Takeaways
- DOKU memperkenalkan Green Pantry, inisiatif pengelolaan limbah sirkular yang mengubah sampah makanan kantor menjadi kompos bernilai guna.
- Waste management di program Green Pantry ini dimulai dari langkah sederhana yang dapat menciptakan budaya ESG yang berkelanjutan di lingkungan kerja.
- Melalui konsep zero waste, limbah makanan diolah menjadi kompos bernama untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih optimal
Bayangkan jika perubahan besar untuk lingkungan tidak hanya dimulai dari teknologi canggih, melainkan juga dari sisa makan siang di kantor.
Di dunia yang paperless dan serba digital, banyak orang percaya bahwa sustainability atau keberlanjutan cukup dicapai melalui inovasi teknologi. Namun di DOKU, perubahan justru dimulai dari tempat yang paling sederhana: pantry.

Setiap harinya, sisa makanan yang biasa berakhir di tempat pembuangan kini dipilah, dikumpulkan, dan diolah kembali menjadi kompos. Sebuah siklus kecil yang mencerminkan cara berpikir baru, bahwa tidak ada yang benar-benar “dibuang”, hanya diubah menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat.
Dari kebiasaan sederhana inilah, lahir sebuah green initiative yang lebih besar: Green Pantry, sebuah inisiatif pengelolaan limbah sirkular yang mengubah sampah makanan kantor menjadi kompos bernilai guna.
Membangun Budaya Sustainability Tidak Harus Dimulai dari Hal Besar
Sebagai perusahaan fintech pembayaran, DOKU dikenal lewat inovasi teknologi yang mempermudah transaksi bisnis. Namun di balik sistem yang serba digital, ada satu kesadaran penting: corporate sustainability tidak cukup hanya berhenti di digitalisasi.
Melihat Potensi dari Aktivitas Sehari-hari

Di kantor dengan sekitar 150–170 karyawan setiap hari, DOKU menghasilkan hampir 1 ton sampah setiap bulan dan sebagian besarnya berasal dari sisa makanan. Dari sini muncul pertanyaan sederhana: bagaimana jika limbah ini bisa dikelola dengan lebih baik?
Menjawab hal tersebut, DOKU menghadirkan Green Pantry sebagai solusi waste management yang berfokus pada pengelolaan limbah langsung dari sumbernya, yaitu aktivitas sehari-hari di pantry kantor. Melalui inisiatif ini, DOKU menegaskan komitmennya terhadap sustainability, sekaligus berkontribusi pada upaya pengurangan emisi karbon.
Prinsip Sirkular Menuju Sustainability

Salah satu konsep yang digunakan adalah prinsip sirkular. Sisa makanan yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) kini dipilah dan diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Dengan pendekatan ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai “akhir”, melainkan bagian dari siklus yang terus berlanjut. Apa yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, justru dapat menjadi sumber daya baru.
Bagi DOKU, transformasi menuju sustainability tidak selalu tentang langkah besar. Justru, perubahan yang berdampak lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Bahkan bisnis digital tetap meninggalkan jejak. Melalui Green Pantry, kami ingin menunjukkan bahwa langkah sederhana di tempat kerja dapat memberikan dampak lingkungan yang nyata dan terukur,” ujar Himelda Renuat, Co-Founder dan Chief Marketing Officer DOKU.
Mendorong Sustainability melalui Kebiasaan Sehari-hari

Green Pantry dihadirkan sebagai pendekatan sederhana yang mudah dijalankan dan relevan dengan keseharian karyawan di kantor. Melalui program ini, DOKU menerapkan sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi dalam aktivitas harian, meliputi:
- Pemisahan sampah organik dan non-organik
- Pengumpulan limbah makanan secara rutin
- Pengolahan limbah organik menjadi kompos
.jpg)
Melalui sistem ini, karyawan turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah lingkungan. Tidak hanya mengurangi limbah, pendekatan ini juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya sustainability dalam aktivitas sehari-hari.
BeyondGrow, Kompos Hasil dari Green Pantry DOKU

Hasil dari proses ini kemudian diolah menjadi kompos bernama BeyondGrow, yang melalui tahapan terkontrol mulai dari pengumpulan, dehidrasi, fermentasi, hingga pematangan. Produk ini tidak hanya mendukung prinsip zero waste, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk penghijauan serta membantu meningkatkan kualitas tanah.
Sebagai langkah lanjutan, DOKU juga membuka pre-order terbatas untuk BeyondGrow agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Kompos ini dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah dan daya serap air, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih optimal. Informasi lebih lanjut tersedia di: https://www.doku.com/about/sustainability.
.jpg)
Pendekatan ini menunjukkan bahwa sustainability tidak selalu membutuhkan sistem yang kompleks. Dengan proses yang sederhana dan keterlibatan individu, perubahan nyata dapat tercipta sekaligus memperkuat budaya ESG yang berkelanjutan di lingkungan kerja.
Sejalan dengan hal tersebut, Nabilah Alsagoff menegaskan bahwa Green Pantry mencerminkan cara DOKU mengintegrasikan corporate sustainability ke dalam operasional sehari-hari. “Kami percaya keberlanjutan harus menjadi bagian dari cara kerja. Dengan sistem yang tepat dan keterlibatan karyawan, dampaknya dapat dikelola secara konsisten dan terukur,” ujarnya.
Momentum Hari Bumi & 19 Tahun Perjalanan DOKU

Momentum ini menjadi semakin bermakna ketika inisiatif ini diperkenalkan bertepatan dengan Hari Bumi pada 22 April, sebuah pengingat global akan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Di saat yang sama, DOKU juga merayakan perjalanan 19 tahun di Bulan April 2026 ini.
Dalam momen ini, Green Pantry menjadi simbol perjalanan perusahaan yang tidak hanya berfokus pada inovasi bisnis, tetapi juga pada komitmen sustainability yang lebih luas. “Perubahan tidak selalu harus besar. Dari pantry kantor, kami ingin menunjukkan bahwa langkah sederhana bisa memberikan dampak nyata,” tutup Himelda Renuat.
Dengan pendekatan yang praktis dan scalable, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan lain untuk memulai langkah menuju operasional yang lebih berkelanjutan.
Think Beyond Waste
