Key Takeaways:
- Jenis model bisnis e-commerce (B2B, B2C, C2C, D2C, hingga B2G) menentukan arah dan menjadi dasar dalam menyusun strategi pemasaran, operasional, dan pengalaman pelanggan.
- Metode operasional bisnis e-commerce yang tepat menentukan efisiensi dan kemampuan scale-up. Metodenya seperti fulfillment mandiri, dropship, subscription, private label, print on demand hingga D2C.
- Membuat website bisnis sendiri dengan pembayaran digital terintegrasi adalah kunci pertumbuhan berkelanjutan. Platform seperti Shopify yang terhubung dengan solusi pembayaran DOKU membantu bisnis meningkatkan konversi dan mempercepat transaksi.
Perubahan perilaku konsumen mendorong bisnis digital untuk tidak lagi terbatas pada aktivitas berjualan di marketplace atau sekadar aktif di media sosial. Saat ini, semakin banyak pelaku usaha yang memilih membangun kanal penjualan secara mandiri agar bisnis dapat tumbuh secara lebih berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, pemahaman terhadap model bisnis ecommerce menjadi fondasi utama sebelum menentukan penggunaan teknologi, platform e-commerce seperti Shopify, serta solusi pembayaran digital yang tepat, guna mendukung pertumbuhan bisnis.
Artikel ini membahas berbagai jenis model bisnis e-commerce, metode operasionalnya, sekaligus mengulas pentingnya membangun situs website secara mandiri dan mengintegrasikan ke sistem pembayaran digital.
Tren E-Commerce di Indonesia: Data & Insight
Perkembangan e-commerce di Indonesia pada periode 2025–2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat dan perubahan perilaku konsumen yang signifikan, sehingga menjadi landasan penting dalam menyusun strategi bisnis ecommerce.
Data dari Mordor Intelligence memperkirakan bahwa nilai e-commerce Indonesia akan terus tumbuh signifikan, dengan estimasi total pasar mencapai lebih dari USD 90 miliar di 2025 dan diproyeksikan tumbuh ke USD 104 miliar pada 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh penetrasi internet yang semakin luas, tingginya adopsi smartphone, serta semakin beragamnya kanal penjualan digital. Di saat yang sama, penggunaan smartphone, social commerce, dan pembayaran digital berbasis fintech turut meningkatkan frekuensi transaksi dan nilai rata-rata belanja.
Memahami Jenis Model Bisnis E-Commerce

Secara umum, model bisnis e-commerce dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan pihak yang terlibat dalam transaksi, seperti berikut:
1. Business to Business (B2B)
Model bisnis e-commerce ini memiliki skema dimana bisnis menjual produk atau layanan kepada bisnis lain.
- Contoh B2B: Perusahaan yang menyediakan bahan baku, distributor, layanan software (SaaS), atau solusi pembayaran digital untuk kebutuhan korporasi.
2. Business to Consumer (B2C)
Model bisnis ini menjual produk atau layanan secara langsung kepada konsumen akhir.
- Contoh B2C: Toko online ritel, brand fashion, produk kecantikan, serta berbagai bisnis yang melayani kebutuhan konsumen secara langsung melalui website atau aplikasi.
3. Consumer to Consumer (C2C)
Model bisnis C2C memungkinkan individu menjual produk atau jasa kepada individu lainnya melalui platform digital pihak ketiga.
- Contoh C2C: aktivitas jual beli antar pengguna yang difasilitasi oleh marketplace atau platform e-commerce yang berperan sebagai perantara transaksi.
4. Consumer to Business (C2B)
Model bisnis ini memungkinkan individu menawarkan produk atau jasa kepada bisnis.
- Contoh C2B: freelancer, kreator konten, atau penyedia jasa profesional yang menawarkan keahlian mereka kepada perusahaan melalui platform digital.
5. B2G (Business-to-Goverment)
Skema e-commerce ini dimana bisnis menjual produk atau layanan kepada instansi pemerintah melalui platform digital.
- Contoh B2G: Proses pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dilakukan melalui sistem elektronik seperti LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik).
6. Government to Consumer (G2C)
Skema e-commerce dimana pemerintah menyediakan layanan atau fasilitas digital secara langsung kepada masyarakat sebagai konsumen akhir.
- Contoh G2C: layanan pembayaran pajak kendaraan melalui e-Samsat serta layanan pembayaran dan administrasi BPJS Kesehatan secara online.
Dengan pemilihan model bisnis e-commerce yang tepat, akan mempengaruhi strategi pemasaran, pengelolaan produk, serta cara bisnis membangun pengalaman pelanggan secara menyeluruh.
Baca juga: Strategi Jitu Scale-Up Bisnis Menengah dengan Shopify Payment Indonesia
Metode Operasional dalam Bisnis E-Commerce

Setelah menentukan model bisnis, langkah selanjutnya adalah memilih metode operasional e-commerce yang sesuai dengan kebutuhan dan skala bisnis. Metode operasional ini akan menentukan bagaimana produk dikelola, dipasarkan, hingga dikirimkan kepada pelanggan. Ada beberapa metode operasional e-commerce yang umum digunakan antara lain:
1. Shipping (Fulfillment Mandiri)
Metode ini memungkinkan bisnis menyimpan stok produk sendiri dan mengelola proses pengiriman secara langsung kepada pembeli. Pendekatan ini memberikan kontrol penuh terhadap kualitas produk dan layanan, namun memerlukan pengelolaan inventori dan logistik yang matang.
2. Dropshipping
Metode operasional yang memungkinkan bisnis berfokus pada aktivitas pemasaran dan penjualan, sementara proses penyimpanan dan pengiriman produk dilakukan oleh pihak ketiga. Metode ini relatif minim resiko stok, tetapi memiliki keterbatasan dalam kontrol kualitas dan kecepatan pengiriman.
3. Wholesale
Metode operasional dengan menjual produk dalam jumlah besar kepada mitra bisnis atau reseller. Model ini umumnya menawarkan volume penjualan yang tinggi, namun dengan margin keuntungan per unit yang lebih rendah.
4. Direct to Consumer (D2C)
Dalam metode D2C, brand menjual produk secara langsung kepada konsumen melalui kanal milik sendiri, seperti website atau aplikasi. Pendekatan ini memungkinkan brand membangun hubungan langsung dengan pelanggan serta mengelola data dan pengalaman pelanggan secara lebih optimal.
5. Subscription
Metode subscription memungkinkan pelanggan melakukan pembayaran secara berkala untuk mendapatkan produk atau layanan dalam periode tertentu. Model ini membantu menciptakan pendapatan yang lebih stabil dan meningkatkan loyalitas pelanggan.
6. Private Label atau White Label
Pada metode ini, produk diproduksi oleh pihak lain namun dipasarkan dan dijual dengan merek milik bisnis sendiri. Pendekatan ini memungkinkan bisnis mempercepat waktu masuk ke pasar tanpa perlu mengelola proses produksi secara langsung.
7. Print on Demand (POD)
Skema metode ini di mana produk diproduksi atau dicetak hanya setelah pelanggan melakukan pemesanan. Pada model ini, bisnis bekerja sama dengan pihak ketiga yang menangani proses produksi, pengemasan, hingga pengiriman, sehingga penjual tidak perlu menyimpan stok barang.
Mengapa Bisnis Perlu Memiliki Website Sendiri?
Mengandalkan marketplace atau media sosial memang dapat membantu bisnis untuk mulai berjualan dengan cepat. Namun, dalam jangka panjang, bisnis modern membutuhkan kanal penjualan yang dapat dikontrol secara penuh agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Dengan memiliki situs website sendiri, ini manfaat bagi bisnis Anda:
- Memberikan kontrol penuh atas kanal penjualan tanpa bergantung pada kebijakan platform pihak ketiga.
- Memungkinkan bisnis membangun tampilan dan pengalaman belanja sesuai identitas brand.
- Membantu bisnis mengelola dan memanfaatkan data pelanggan secara langsung.
- Memudahkan penerimaan transaksi langsung di dalam ekosistem bisnis sendiri.
Membangun Website E-Commerce yang Siap Tumbuh dengan Pembayaran Digital

Untuk membangun website e-commerce secara efisien, bisnis dapat memanfaatkan platform e-commerce siap pakai seperti Shopify, yang memungkinkan pembuatan dan pengelolaan toko online tanpa harus membangun sistem dari nol. Sebagai platform e-commerce yang dirancang untuk membantu bisnis tumbuh dan siap scale-up, Shopify menghadirkan rangkaian fitur terintegrasi yang memudahkan pelaku usaha mengelola seluruh proses penjualan, mulai dari membangun toko online, meningkatkan konversi, mengelola operasional, hingga menerima pembayaran dari transaksi pelanggan di website.
Baca juga: Apa Itu Shopify? Kenali Platform E-Commerce yang Populer Digunakan Pebisnis Online
Lebih Mudah Checkout dengan Pembayaran Terintegrasi
Namun, agar seluruh proses penjualan tersebut dapat berjalan optimal, bisnis tetap membutuhkan sistem pembayaran digital yang terintegrasi dengan platform e-commerce yang digunakan serta mampu mendukung kebutuhan transaksi yang terus berkembang. DOKU menyediakan solusi pembayaran digital yang membantu mengelola proses pembayaran secara lebih efisien, aman, dan andal, termasuk bagi bisnis yang membangun dan mengembangkan website e-commerce menggunakan platform seperti Shopify.
Melalui dukungan lebih dari 45 metode pembayaran, DOKU memungkinkan bisnis menerima pembayaran sesuai dengan preferensi konsumen di Indonesia, mulai dari transfer bank, virtual account (VA), QRIS, kartu kredit, e-wallet, dll. Integrasi sistem pembayaran yang tepat tidak hanya mempermudah pelanggan saat bertransaksi, tetapi juga membantu bisnis mengelola operasional keuangan secara lebih efisien dan terstruktur.
Dengan strategi yang menyeluruh, bisnis dapat lebih adaptif terhadap perubahan pasar, memiliki kendali penuh atas kanal penjualan, serta membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat.
.png)