Perlindungan Data Pribadi dan Bisnis: AI Dipakai Tiap Hari, Tapi Risiko Perlu Disadari

perlindungan data pribadi
Table of Contents

Key Takeaways

  1. AI mempercepat bisnis, tapi juga memperluas risiko perlindungan data pribadi. Tanpa kontrol dan tata kelola yang tepat, AI dapat menjadi jalur baru kebocoran data yang luput dari perhatian.

  2. Kebocoran data tidak hanya soal serangan siber, tetapi juga proses dan kebiasaan kerja dari aktivitas sehari-hari seperti, email, file sharing, dan penggunaan AI generatif dapat menjadi titik rawan.

  3. Perlindungan data pribadi adalah pondasi kepercayaan dan keberlanjutan bisnis di era AI. Pendekatan seperti Zero Trust, pemanfaatan AI untuk deteksi dini, pengaturan penggunaan AI generatif, serta peningkatan literasi keamanan internal menjadi kunci agar inovasi AI tetap aman.

AI kini sudah menjadi “rekan kerja” baru di banyak bisnis. Mulai dari chatbot yang mampu menjawab pertanyaan pelanggan 24 jam, tools AI untuk membuat konten promosi, hingga sistem yang membantu membaca pola transaksi dan perilaku konsumen.

Tidak heran jika secara global, sebanyak 94% organisasi/perusahaan menilai AI sebagai faktor perubahan terbesar dalam lanskap keamanan siber ke depan. AI dapat membantu bisnis lebih cepat dan efisien. Tapi di saat yang sama, AI juga mengubah peta risiko, terutama soal data.

Karena satu hal yang pasti: AI tidak bisa bekerja tanpa data. Semakin sering AI dipakai, semakin banyak data yang diproses, dan di sinilah banyak pebisnis mulai luput mengantisipasi risikonya.

AI Membuka Peluang Baru, Sekaligus Tantangan Keamanan

Sebelum era AI, data biasanya hanya disimpan dan dianalisis secara berkala. Sekarang, data terus dipelajari mesin secara otomatis untuk menghasilkan rekomendasi dan keputusan.

Dalam praktik sehari-hari, contohnya seperti berikut:

  • Data pelanggan dari website, marketplace, dan media sosial.
  • Tim internal menggunakan tools AI untuk meringkas laporan, membaca tren, atau bahkan menjawab email.
  • Sistem AI belajar dari data lama untuk memprediksi perilaku baru.

Seperti laporan pada Global Cybersecurity Outlook 2026 menunjukkan bahwa 87% organisasi melihat celah keamanan pada penggunaan AI sebagai ancaman siber yang tumbuh paling cepat.

AI, Dimanfaatkan Pebisnis tapi juga Fraudster

AI bukan hanya dimanfaatkan oleh pelaku bisnis, tetapi juga oleh pelaku kejahatan siber.

Di satu sisi:

  • 77% organisasi sudah menggunakan AI untuk keamanan siber, terutama untuk mendeteksi phishing, anomali, dan perilaku mencurigakan.
  • AI membantu mempercepat deteksi dan respons insiden yang sebelumnya memakan waktu lama.

Namun di sisi lain:

  • Pelaku kejahatan juga memakai AI untuk membuat phishing yang lebih meyakinkan.
  • Serangan menjadi lebih cepat, lebih personal, dan lebih sulit dibedakan dari aktivitas normal.

Risiko Data yang Muncul Seiring Adopsi AI

Seiring AI semakin menyatu dalam aktivitas bisnis, risiko pun ikut menyebar ke proses-proses yang sebelumnya dianggap aman. Laporan Zscaler ThreatLabz Data@Risk Report 2025 menunjukkan bahwa kebocoran data kini tidak lagi berasal dari satu celah tunggal, melainkan dari berbagai jalur yang kerap luput dari perhatian bisnis, terutama di tengah masifnya adopsi AI dan sistem kerja digital.

a. Aplikasi Gen AI Bisa Menjadi Titik Rawan

Penggunaan tools AI generatif semakin lazim digunakan untuk mempercepat pekerjaan. Namun dibalik manfaat tersebut, ada hal lain yang perlu diwaspadai pelaku bisnis, yaitu berbagai data sensitif ke aplikasi AI, mulai dari nomor identitas pribadi, source code, hingga data kesehatan atau informasi medis. Kondisi ini menjadikan AI berpotensi sebagai titik rawan kebocoran data jika tidak diiringi kebijakan dan kontrol penggunaan yang jelas. 

b. Email Tetap Menjadi Celah Klasik

Meski bukan teknologi baru, email masih menjadi salah satu sumber kebocoran data paling sering terjadi. Pengiriman dokumen penting tanpa enkripsi, salah alamat penerima, hingga klik tautan phishing masih menjadi praktik berisiko yang kerap terjadi di lingkungan bisnis. Karena sudah terlalu familiar, email seringkali dianggap aman-aman saja, padahal justru menjadi pintu masuk bagi berbagai ancaman siber.

c. File Sharing Tanpa Kontrol Akses Memperbesar Risiko

Layanan berbagi file (file sharing) memudahkan kolaborasi lintas tim dan mitra bisnis. Namun, menurut laporan tersebut ada banyak insiden kebocoran data terjadi karena pengaturan akses yang terlalu longgar. File sensitif yang dapat diakses publik, dibagikan ke pihak luar tanpa batasan, atau tersimpan tanpa perlindungan tambahan menjadi risiko nyata, terutama ketika data tersebut berkaitan dengan pelanggan atau transaksi bisnis.

Baca juga: Bahaya Brand Impersonation Scam bagi Bisnis Anda

Strategi Perlindungan Data Pribadi yang Perlu Disiapkan Bisnis

Faktanya, sebagian besar kebocoran data saat ini tidak terjadi karena serangan siber yang kompleks, melainkan akibat kelalaian manusia, kurangnya visibilitas, dan lemahnya kontrol internal. Aktivitas sehari-hari seperti berbagi file, mengirim email, atau menggunakan AI generatif kerap membuka celah risiko baru tanpa disadari. Karena itu, bisnis membutuhkan pendekatan keamanan yang lebih proaktif dan adaptif dengan membangun perlindungan data pribadi dana bisnis yang bukan hanya teknologi semata tetapi juga seperti berikut ini:

1. Zero Trust sebagai Pondasi Akses Data

Pendekatan Zero Trust menempatkan prinsip bahwa tidak ada pengguna, perangkat, atau sistem yang otomatis dipercaya, meskipun berada di dalam lingkungan perusahaan. Setiap akses ke data harus melalui proses verifikasi yang ketat. Dengan pendekatan ini, bisnis dapat membatasi penyebaran risiko, memastikan hanya pihak yang berwenang yang dapat mengakses data sensitif, serta mengatur akses berdasarkan konteks seperti lokasi, perangkat, dan waktu.

2. Pemanfaatan AI untuk Deteksi dan Pencegahan Dini

Alih-alih menunggu insiden terjadi, AI dapat dimanfaatkan untuk memantau aktivitas pengguna dan sistem secara berkelanjutan. Pola yang tidak wajar, seperti pengunduhan data dalam jumlah besar, login dari lokasi tidak biasa, atau pengunggahan data sensitif ke aplikasi AI dapat terdeteksi lebih awal. Pendekatan ini membantu tim bisnis dan IT mengambil tindakan sebelum risiko berkembang menjadi pelanggaran nyata.

3. Pengaturan Penggunaan AI Generatif Secara Lebih Disiplin

Aplikasi AI generatif perlu diatur dengan kebijakan yang jelas dan terukur. Bisnis sebaiknya membatasi jenis data yang dapat diproses oleh AI, menerapkan kontrol granular atas input dan output, serta memastikan data sensitif tidak digunakan sebagai bahan prompt. Dukungan mekanisme seperti Data Loss Prevention (DLP) dan audit aktivitas AI membantu memastikan pemanfaatannya tetap produktif tanpa mengorbankan keamanan dan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data.

4. Peningkatan Kesadaran dan Literasi Keamanan di Internal Tim

Teknologi hanyalah satu sisi dari solusi. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab utama kebocoran data. Karena itu, edukasi karyawan menjadi elemen krusial. Pelatihan rutin, simulasi ancaman seperti phishing, serta pembiasaan praktik kerja yang aman akan membantu menciptakan budaya perusahaan yang lebih peduli terhadap perlindungan data.

Jika perlindungan data pribadi dan bisnis diabaikan, dampaknya?

  • Kepercayaan pelanggan tergerus, terutama pada bisnis berbasis layanan digital
  • Kerugian finansial dan operasional, mulai dari pemulihan sistem hingga hilangnya peluang bisnis

Bagi bisnis, kepercayaan bukan sekadar nilai tambah, melainkan fondasi hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

AI yang Bertanggung Jawab Dimulai dari Perlindungan Data

AI akan terus berkembang dan semakin menyatu dengan proses bisnis. Tantangannya kini bukan lagi soal apakah AI perlu digunakan, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara aman dan bertanggung jawab. Perlindungan data pribadi menjadi kunci agar efisiensi yang dihadirkan AI tidak justru berubah menjadi risiko.

Momentum World Privacy Day yang diperingati setiap 28 Januari menjadi pengingat bahwa privasi dan perlindungan data pribadi bukan sekadar isu teknis atau kewajiban regulasi, melainkan komitmen jangka panjang. Bagi bisnis, momen ini relevan untuk kembali meninjau bagaimana data dikelola, digunakan, dan dilindungi agar pemanfaatan AI tetap cerdas, aman, dan terpercaya.

Di tengah ekosistem digital yang semakin kompleks, upaya tersebut tentu membutuhkan dukungan teknologi yang tepat. Bisnis memerlukan mitra yang tidak hanya mendorong efisiensi, tetapi juga mengedepankan keamanan dan kepercayaan. Dalam konteks ini, DOKU berperan membantu bisnis menghadirkan solusi pembayaran digital yang aman, patuh regulasi, dan terintegrasi dengan perkembangan teknologi, termasuk AI. Dengan fondasi perlindungan data yang kuat, pemanfaatan AI dapat berjalan lebih cerdas, aman, dan berkelanjutan, baik bagi bisnis maupun pelanggan.