Ketika AI Menjadi Travel Advisor Baru, Ini Datanya

ai travel
Table of Contents

Key Takeaways

  • AI telah menjadi “travel advisor pertama” bagi wisatawan. Dari mencari inspirasi hingga memilih destinasi, itinerary, hotel, dan aktivitas, sebelum mereka membuka platform booking.
  • Tingginya tingkat kepuasan dan niat penggunaan ulang menunjukkan bahwa wisatawan mulai mengandalkan AI sebagai partner pengambilan keputusan dalam perjalanan.
  • Bisnis travel perlu memastikan kehadiran, integrasi, dan sistem transaksinya siap agar rekomendasi AI benar-benar berubah menjadi booking dan pendapatan.

Transformasi digital yang ditandai oleh kemajuan pesat Artificial Intelligence (AI) telah membawa industri pariwisata memasuki fase baru. AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan mulai berperan sebagai decision engine yang memengaruhi bagaimana wisatawan menemukan destinasi, membandingkan opsi perjalanan, hingga menentukan pilihan akhir.

Algoritma kini perlahan menggeser peran promosi dan agen tur konvensional dalam membantu wisatawan menyusun rencana perjalanan atau itinerary, menentukan destinasi, memprediksi tren liburan, hingga mempersonalisasi rekomendasi. Di Indonesia, perubahan ini mulai terasa seiring meningkatnya literasi digital dan ketergantungan konsumen pada teknologi dalam keseharian mereka.

Tren Wisatawan, Dari Cari Inspirasi Sampai Tentukan Destinasi

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kaspersky bekerja sama dengan Toluna terhadap 3.000 responden di 15 negara, termasuk Indonesia, tingkat adopsi AI untuk perencanaan liburan masih relatif awal, tetapi menunjukkan potensi pertumbuhan yang besar.

Sebanyak 28% responden menyatakan menggunakan AI untuk merencanakan perjalanan, termasuk mencari destinasi, membuat itinerary, dan memilih aktivitas wisata. 

Dari kelompok pengguna tersebut:

  • 96% menyatakan puas dengan hasil rekomendasi AI.
  • 84% berencana menggunakan AI kembali untuk perencanaan liburan berikutnya.

Menariknya, penggunaan AI saat ini paling kuat berada di fase riset dan inspirasi. Dari para pengguna AI tersebut:

  • 70% mencari aktivitas, merekomendasikan rute wisata populer, memberi ide oleh-oleh.
  • 66% untuk memilih akomodasi.
  • 60% menyusun daftar restoran.
  • 58% mencari tiket transportasi atau atraksi.

Ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi alat utama dalam menyaring kompleksitas informasi dan membantu konsumen membentuk preferensi awal sebelum mengambil keputusan akhir. Dengan kata lain, meskipun belum digunakan oleh mayoritas wisatawan, AI sudah memainkan peran yang sangat signifikan di fase awal customer journey, fase yang paling menentukan arah keputusan.

AI kini menjadi “pintu pertama” yang dilalui wisatawan sebelum memilih destinasi: menentukan apa yang terlihat, rekomendasi apa yang muncul, dan opsi mana yang akhirnya masuk dalam pertimbangan.

Kepercayaan terhadap AI Terus Tumbuh

Tren ini juga diperkuat oleh data Agoda dalam 2026 Travel Outlook Report. Di Indonesia, 85% responden menilai rekomendasi liburan berbasis AI sangat membantu dalam memilih destinasi, penerbangan, dan akomodasi. Secara regional di Asia:

  • 63% wisatawan berencana menggunakan AI untuk merencanakan perjalanan berikutnya,
  • 44% sudah cukup atau sepenuhnya percaya pada informasi yang dihasilkan AI, sementara
  • 46% bersikap netral, menunjukkan resistensi yang relatif rendah.

Minat ini didorong oleh kebutuhan dengan cara yang lebih efisien dimana wisatawan ingin AI dapat membantu mereka menavigasi banyaknya pilihan dan menyajikan yang paling relevan. Hal itu tercermin dari tiga fungsi AI yang paling diharapkan wisatawan Asia dalam penggunaannya, yakni:

  • 32% untuk merekomendasikan atraksi dan aktivitas lokal,
  • 29% untuk membuat itinerary yang dipersonalisasi, dan
  • 28% untuk menyarankan destinasi wisata.

Semua ini menegaskan bahwa wisatawan tidak lagi sekadar “penasaran” dengan AI, tetapi mulai mengandalkannya sebagai asisten pengambilan keputusan dalam membuat perencanaan liburan yang lebih cepat, sederhana, dan relevan dengan kebutuhan mereka.

Apa Artinya Ini bagi Bisnis Pariwisata?

Ketika AI mulai membentuk apa yang dilihat, dipertimbangkan, dan akhirnya dipilih oleh wisatawan, dampaknya tidak berhenti di sisi konsumen. Perubahan ini dapat langsung menyentuh cara bisnis di bidang pariwisata bersaing dan memenangkan pasar. Lalu, apa artinya semua ini bagi pelaku bisnis pariwisata?

1. AI menjadi ‘pintu masuk’ utama konsumen

Dalam ekosistem perjalanan yang modern saat ini, interaksi pertama konsumen dengan sebuah destinasi, hotel, atau layanan perjalanan semakin sering dimediasi oleh algoritma, contohnya melalui search engine, platform pemesanan, media sosial, hingga LLM (chatGPT, Gemini, dll). 

Ini artinya, brand yang tidak hadir, tidak teroptimasi, atau tidak relevan dalam ekosistem berbasis AI berisiko “tidak terlihat” sejak awal proses pengambilan keputusan. Bukan karena produknya tidak kompetitif, tetapi karena ia tidak muncul dalam ruang digital tempat konsumen memulai perjalanan mereka.

2. Model hybrid AI + human touch lebih mudah diterima konsumen

Meski AI menawarkan efisiensi, kecepatan, dan personalisasi, konsumen tetap membutuhkan elemen manusia seperti empati, intuisi, dan rasa aman, khususnya pada keputusan yang bernilai tinggi atau bersifat emosional. Model yang mengkombinasikan kecerdasan AI dengan dukungan manusia (misalnya customer service, travel advisor, atau local host) terbukti lebih dapat diterima karena menggabungkan efisiensi teknologi dengan kepercayaan interpersonal.

3. Era agentic AI: perlunya infrastruktur yang siap bertindak

Perkembangan berikutnya bukan hanya AI yang merekomendasikan, tetapi AI yang mampu membantu mengeksekusi, mulai dari menyaring opsi, menyusun rencana, hingga memfasilitasi transaksi dan realisasi keputusan.

Agar ini dapat terjadi secara aman dan andal, dibutuhkan fondasi digital yang memungkinkan sistem AI terhubung dengan layanan bisnis secara terstandarisasi, terlindungi, dan patuh terhadap regulasi, khususnya pada area sensitif seperti pembayaran, identitas, dan data pengguna.

Di sinilah peran solusi pembayaran digital yang siap terintegrasi dengan sistem berbasis AI menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai alat transaksi, tetapi sebagai penghubung antara niat konsumen dan realisasi, memastikan bahwa ketika AI membantu pengguna mengambil keputusan, bisnis juga siap memfasilitasi realisasinya secara cepat, aman, dan terpercaya.

Dengan fondasi ini, AI tidak lagi berhenti di tahap rekomendasi, tetapi dapat menjadi bagian dari alur end-to-end perjalanan konsumen dari inspirasi hingga transaksi dalam satu pengalaman yang terpadu dan mulus.

Jangan biarkan peluang hanya jadi rekomendasi. Wujudkan AI intent untuk pertumbuhan bisnis Anda
Konsultasikan dengan tim DOKU